Iklan
Mahkamah Agung Federal (STF) sedang mengadili kasus yang melibatkan koreksi FGTS (Dana Jaminan Masa Kerja) menggunakan Suku Bunga Referensi (TR). Persidangan dimulai pada bulan April dan telah memiliki dua suara yang mendukung agar pembayaran FGTS setara dengan tabungan.
Caixa Econômica Federal (CEF) memperkirakan dampak signifikan sebesar R$ 661 miliar bagi pemerintah jika TR ditolak. Pahami lebih lanjut tentang kasus ini dan lihat bagaimana hal ini memengaruhi Anda.
Iklan
Remunerasi FGTS dan dampaknya
Undang-undang nº 13.446/2017 dan nº 13.932/2019 memperkenalkan perubahan dalam remunerasi FGTS, yang memungkinkan sebagian keuntungan dibagikan kepada para pemegang rekening. Hal ini menghasilkan remunerasi yang lebih tinggi daripada TR dan inflasi.
Namun, Kejaksaan Agung Persatuan (AGU) berupaya mencegah Mahkamah mengadili isu tersebut, tetapi tidak berhasil. Pada tahun 2022, TR berada di angka 1,63%, sementara tabungan menghasilkan 7,89% dan IPCA menutup tahun di angka 5,79%.
Dengan demikian, pembahasan yang dimaksud berkisar pada koreksi FGTS untuk periode antara 1999 dan 2013, yang berawal dari gugatan ADI 5090, yang diajukan oleh partai Solidariedade.
Argumen-argumen tersebut menyatakan bahwa penerapan TR untuk mengoreksi saldo akan mengurangi aset pekerja. Hal ini karena FGTS merupakan semacam tabungan wajib untuk kepentingan pekerja.
Siapa yang terdampak oleh koreksi ini?
Caixa memperingatkan bahwa suku bunga pembiayaan perumahan akan meningkat sekitar 5% menjadi antara 10% dan 13% jika permohonan para pekerja diterima, dengan mengganti TR dengan indeks lain, seperti Selic atau IPCA.
Namun, 87% dari jumlah tersebut akan diberikan kepada 5% pekerja yang berpenghasilan lebih dari sepuluh upah minimum. Sementara itu, pekerja berpenghasilan lebih rendah akan menerima rata-rata antara R$ 1 ribu dan R$ 4 ribu, tetapi akan menghadapi suku bunga yang lebih tinggi dalam pembiayaan rumah sendiri.
Gambar: Unsplash/Daniel Dan